Headlines News :
Home » » Detektif Jagoan itu Tangannya Buntung!

Detektif Jagoan itu Tangannya Buntung!

Written By Rewin Satria on Rabu, 20 Februari 2013 | 04.29

Jay J. Armes, Investigator. Begitu judul buku karya Frederick Nolan. Membaca buku ini seperti tercerahkan. Pada usia 11 tahun Armes kehilangan kedua tangannya. Namun ia berpikiran positif. Baginya cacat bukanlah alasan untuk berputus asa. Ia malah ingin lebih berkarya. Simaklah kisahnya yang ditulis dalam beberapa seri ini.

Armes kecil merupakan pribadi yang sangat ambisius. Tekadnya besar. Mentalnya kuat. Julian Armas, begitu nama kecilnya, melakukan empat pekerjaan sekaligus saat usia 11 tahun. Ia bangun pukul 04.30 untuk mengantarkan koran. Setelah itu ia pergi ke seorang petani untuk memberi makan 60 ekor anak sapi. Pulang sekolah ia mengantarkan koran lagi dan kembali ke petani yang mempekerjakan dia. Setelah makan malam ia bekerja di bioskop.

Sejak kecil ia memang diajarkan oleh ayahnya yang bekerja di sebuah toko makanan untuk berdikari. Selain mengantar koran, ia menjadi rentenir. Pada permulaan minggu ia meminjakan uang 25 sen dan pada akhir minggu ia minta kembali 50 sen. Hasilnya lumayan. Kegiatan itu membuatnya ia bersikap tegas. Namun pihak sekolah mengetahui hal itu dan melarangnya.

Umur 13 tahun ia sudah tahu tujuan hidupnya: menjadi dokter. Ia kenal seorang dokter di dekat rumah, yang selalu memberi jawaban kalau Armes bertanya soal-soal medis. Bahkan ia boleh melihat saat dokter itu melakukan operasi kecil-kecilan. Menurut sang dokter, ia mempunyai bakat untuk menjadi ahli bedah. Armes pun mulai membayangkan diri sendiri dengan penutup mulut di depan meja operasi. Namun cita-cita itu terkoyak dengan kejam.

Inilah penuturan Armes soal kecelakaan yang membelokkan cita-citanya.

Hari naas

Saya masih ingat dengan jelas. Pada suatu malam sejuk di bulan Mei 1949 (Jay J Armes lahir di El Paso, Texas, 12 Agustus 1932 - Red.) saya bermain-main di kebun seorang teman yang lebih tua, Dickie Caples. Teman itu berusia 18 tahun dan orangtuanya berada. Dickie bahkan mempunyai mobil sendiri, yang tentu menjadi bahan iri hati bagi rekan-rekannya. Saya juga, tetapi mungkin berkat mobil itu saya masih hidup.

Pada malam itu kami bermain dengan sisa peluru yang ditinggalkan oleh orang-orang dari dinas kereta api. Dengan alat pemukul kami mencoba untuk membuka peluru itu. Tiba-tiba seperti ada granat yang meletus di tangan saya. Waktu sadar, saya sudah berada dekat sebuah pohon, padahal sebelumnya saya berada pada jarak 6 m dari pohon itu. Saya mencoba untuk memeluk pohon itu, tetapi lepas terus. Saya belum insaf bahwa saya tidak bertangan lagi.

Dengan susah payah saya berhasil berdiri. Baru saat itu saya melihat bahwa saya berlumuran darah. Saya melihat Dickie lari. Saya kira dia mencari bantuan, tetapi ternyata ia lari karena ketakutan. Saya berusaha untuk mengejarnya, tetapi tidak berhasil. Saya menjadi ketakutan.

"Dickie tolong!" teriak saya. "Ambil mobilmu. Antar saya ke dokter di Ysleta."

Dengan lambat ia menengok dan melihat saya dengan muka tercengang. "Apa ...?" ia tergagap. Mungkin ia kaget melihat saya.

Baru ia insaf. Ia lari ke mobilnya dan membuka pintunya. Saya masuk ke mobilnya, tetapi ia takut melihat ke tangan saya. Sakitnya bukan main. Darah menyembur ke kaca depan, sehingga Dickie terpaksa harus mengusapnya dengan tangannya. Pada saat kami sampai ke dokter, ia sudah berlumuran darah seperti saya.

Kami bergegas masuk ke ruang praktik. Seorang wanita hamil sedang menunggu gilirannya. Ketika melihat saya, matanya melotot, lalu ia jatuh pingsan. Karena kehilangnn banyak darah, rasanya kepala saya ringan.

Dokter Delgado kelihatan marah ketika pintunya dibuka, namun ketika melihat saya ia menjadi pucat. Ia memeriksa keadaan saya dan mengatakan kepada orangtua saya bahwa kedua tangan saya perlu diamputasi sampai di atas pergelangan. Tidak ada jalan lain. Untuk itu ia perlu izin.


Bagaimana nasib Armes setelah kehilangan kedua tangannya? Armes mengakui bahwa ia belum bisa menerima kenyataan. Ia tidak mau berbicara dengan siapa pun. Dengan saudara-saudara saya pun tidak.

"Mengapa saya yang harus mengalami nasib malang begini?" pikir dia terus-menerus. Ia tidak bisa menahan air mata. Namun tiba-tiba ia bangkit. "Mengapa saya begitu egois? Keluarga dan para dokter serta perawat juga sudah merawat saya dengan penuh cinta kasih?" begitu pikiran positif pada Armes memberi kekuatan.

Sejak itu keadaan bertambah baik. Ia tidak merasa kasihan pada dirinya sendiri. Lalu Armes bertanya kepada dokter apakah bisa mendapat tangan buatan. Akhirnya para dokter memasang sistem sangat khusus pada dia. Pada bisepnya dipasangi semacam pipa yang dimasuki jarum. Jarum itu dipasangkan pada bisep Armes. Dengan menggerakkan jarum itu kait yang menjadi jari tangan bisa digerakkan. Itu berarti bahwa otot lengan dia harus dua tiga kali lebih kuat dari manusia biasa. Bukan tugas yang mudah!

Memasang tali sepatu menjadi pekerjaan yang rumit. Demikian juga membuka pintu, mengancingkan baju dan menulis nama. Itu belum termasuk rasa sakit yang menyertai proses belajar. Armes tentu juga keras kepala dan tidak mau masuk ke pusat rehabilitasi, karena ia tidak merasa dirinya cacat.

Salah satu hal yang harus dipelajarinya lagi ialah naik sepeda. Setelah bisa, Armes bisa mengantarkan koran lagi. Sebelum bisa naik sepeda, ia harus belajar melipat koran dan melemparkannya ke taman langganan dari sepeda motor. Yang paling susah ialah kalau sepeda motor ngadat di tengah jalan dan harus memperbaikinya sendiri. Namun, itu pun berhasil setelah latihan.

Bionic man

Pada usia 23 tahun Armes memutuskan untuk menjadi detektif pribadi. Kala itu di El Paso dan sekitarnya sudah ada 18 kantor detektif. Ia menuju ke Sheriff Bob Bailey untuk minta surat rekomendasi. Ternyata Bob Bailey menyarankan untuk melupakan ide itu. Namun setelah dibujuk akhirnya Bailey bersedia juga memberi kesempatan.

Berdua mereka pergi ke Komisaris Polisi Reisinger. la pun enggan, tetapi akhirnya keluar juga izin C-00107 untuk Jay J. Armes. Dengan penuh kepercayaan Armes keluar kantor polisi. Pokoknya, ia bertekad untuk tidak mengecewakan kedua orang tadi. "Saya tahu pendapat orang tentang seorang detektif pribadi. Saya akan mengubah gambaran itu. Saya ingin orang pergi ke detektif pribadi, seperti orang minta bantuan dokter atau pengacara."

Jay Armes tidak membual kalau ia mengatakan bahwa kemampuannya melebihi orang yang masih lengkap anggota badannya. Misalnya ia bisa memukul kaca sampai pecah dengan tangan telanjang atau memegang pisau seorang penyerang. Ia bahkan pernah menghentikan mesin yang "ngebut" dengan cara memasukkan kaitnya di antara jari-jari mesin.

Kaitnya juga bukan sekadar "tangan buatan". Benda itu bisa dipakai macam-macam, biarpun Jay Armes tidak mau mengungkapkan semuanya secara terus terang. Yang diungkapkannya hanya beberapa rahasia saja. Salah satu dari kaitnya diperlengkapi dengan sepotong baja yang bisa berfungsi sebagai pisau. Alat lain bisa membuka setiap kunci. Ia juga bisa membuat kaitnya bekerja sebagai magnet. Sebuah intan kecil yang dipasang pada kaitnya bisa dimanfaatkan untuk memotong kaca.

Alat lain bisa memotong kabel yang terisolasi ataupun tidak. Dengan kaitnya ia bisa menggunakan setiap jenis senjata. Namun ia juga bisa memegang porselin paling halus tanpa pecah atau tumpah isinya. Satu hal yang paling menyulitkan pada kait itu: Orang yang berkait tentu langsung dikenali, sesuatu yang tentu minus bagi seorang detektif. Untuk menanggulangi hal itu Armes pergi ke Hollywood untuk membuatkan tangan buatan yang sangat realistis, dari dekat sekalipun. Tangan itu jarang digunakan, tetapi ada kalau diperlukan. Mungkin perlu ditambahkan bahwa tangan Armes juga merupakan alat penyiar dan penerima portable. Pasti masih ada banyak hal lain, tetapi itu hanya diketahui oleh Armes sendiri.


Salah satu pemakai jasa Armes adalah Marlon Brando, bintang film yang anaknya diculik. Bagaimana lika-liku Armes memecahkan masalah penculikan itu, berikut penuturan Armes.

Saya sudah tahu penculikan itu dari televisi. Pada penculikan seperti itu saya langsung bertanya apakah diminta uang tebusan. Ternyata tidak.

Setiap orang sudah tahu bahwa Marlon Brando dan istrinya, Anna Kashfi, sudah sebelas tahun memperebutkan Devi Christian, yang waktu itu berumur 13 tahun. Perebutan itu sudah menghabiskan ratusan ribu dolar, tetapi sekarang Christian diculik. Apakah itu balas dendam karena Brando main sebagai Don Vito Corleona, "Capo Mafioso" dalam film The Godfather yang waktu itu baru diputar? Mungkin ada orang yang merasa tersinggung. Namun saya sendiri yakin bahwa penculikan Christian tidak mungkin karena motif balas dendam. Di dunia hitam, kalau ingin mengadakan perhitungan dengan orang, mereka langsung menghabisi nyawanya.

Putra Brando belajar di sebuah sekolah pribadi di Ojai, Kalifornia. Sejak akhir Februari ia tidak muncul lagi setelah ibunya tidak memperbolehkannya ke sekolah, karena ia sedang terserang angina hebat. Saya merasa bahwa Anna Kashfi pasti ada di belakang penculikan itu, biarpun belum ada bukti. Brando sendiri tidak bisa meninggalkan Paris, karena sedang shooting, tetapi ia akan ke Kalifornia secepat mungkin. Ia minta saya bertindak segera.

Saya langsung ke Kalifornia. Setiba di situ saya memasang pengawalan ketat sekeliling Anna Kasfi, 24 jam sehari. Pada saat yang sama saya mulai melakukan penyelidikan lingkungan. Itu bukan pekerjaan yang menyenangkan: berjalan terus, mengetuk banyak pintu, dan mencari keterangan. Padahal sering keterangan itu tidak ada artinya. Namun, pekerjaan itu penting untuk mengetahui kebiasaan setempat.

Yang juga dimintai keterangan selain tetangga ialah orang-orang yang secara teratur pergi ke situ, seperti misalnya pak pos, penyapu jalan, pengantar ini atau itu. Hasilnya, rumah Anna Kashfi memang tempat pertemuan orang-orang yang kurang bonafid. Bahkan beberapa kali terjadi pekelahian, sehingga polisi perlu turut campur.

Ternyata Anna Kashfi dan temannya, Shierley Hauptmann, telah mendirikan usaha yang diberi nama "World Travel Academy", sebuah perusahaan perjalanan yang kantor pusatnya di Mexicalli, agak sebelah selatan perbatasan dengan Meksiko. Aneh, karena justru dari situlah Anna Kashfi telah melaporkan hilangnya Christian.

Berkat tetangga cerewet

Kami juga menemukan seorang tetangga wanita, Marian Conlan, yang jengkel dengan keluarga Kashfi dan tamu-tamunya. Ia bahkan begitu jengkel sampai nomor mobil para tamu yang gaduh itu dicatat satu per satu. Maksudnya untuk diberikan kepada polisi jika diperlukan. la bersedia memberikan daftar itu, termasuk hari datangnya. Ternyata tanggal terakhir dalam catatannya ialah 5 Maret 1972. Hari itu datang sebuah VW kombi yang memakai tulisan. Ada kata "travel", katanya. Ketika saya tanya apakah bukan "World Travel Academy", ia seperti tersengat, karena ingat kembali.

Saya mengirim agen-agen saya ke tiga tempat penyeberangan ke Meksiko, yakni di Tijuana, Tecate, dan Mexicalli. Tugasnya untuk mencari tahu tentang VW kombi merah yang ke Meksiko. Setiap mobil yang masuk ke Meksiko dicatat nomornya dan diberi visa untuk memastikan mobil itu bukan barang curian.

Selama rekan-rekan saya mengawasi perbatasan, saya mencari sebuah helikopter Hughes 500 untuk disewa. Saya ingin sebuah pesawat yang kuat dan bisa terbang jauh. Helikopter militer OH-6A memenuhi harapan itu. Pesawat itu dibuat untuk lima penumpang dan bisa menempuh ratusan kilometer pada ketinggian 2.000 m.

Malam itu juga saya mendapat telepon dari salah seorang agen saya bahwa memang ada bus merah lewat perbatasan Mexicalli hari Senin. Jadi, itu berarti empat hari yang lalu. Mereka sudah bisa mencapai jarak jauh. Pemiliknya menyebut diri James Barry Wooster dan tempat tujuannya ialah Baja California. Saya minta agen saya untuk tetap di pos tersebut, karena orang yang masuk dari pos itu harus keluar dari pos yang sama.

Saya menelepon tempat menyewakan helikopter dan minta supaya pesawat itu tetap standby. Kemudian saya menelepon bandara dan setengah jam kemudian saya sudah dalam pesawat jet American Airlines kelas satu menuju Dago. Di pangkuan saya ada peta detail Baja California.

Baja California berbentuk lidah sepanjang 1.000 km dan bagian terlebar 200 km. Di tengahnya membentang Pegunungan Sierras dan pada setiap sisinya ada jalan mobil di tepi pantai. Kedua jalan itu menjadi satu dan dari situ ada satu jalan buruk menuju ke sebuah kota kecil dengan pelabuhan dan lapangan terbang. Tempat pertemuan jalan itu bernama Santa Rosalia dan terletak 800 km dari perbatasan. Jadi, dalam empat hari dengan mudah bisa dicapai.

Dari peta saya juga bisa melihat bahwa jalur pantai itu kadang-kadang berhutan pasir. Selain itu di pantai penuh pulau-pulau kecil. Jadi, daerah sulit untuk ditelusuri. Ditambah lagi belum tentu penculik bersembunyi di daerah itu, tetapi bagaimanapun kita harus mulai. Mengapa tidak mulai di Baja California?

Banyak rambut, sedikit tata krama

Saya membaca lagi catatan dari penyelidik lingkungan di Los Angeles. Tamu Anna Kashfi kebanyakan hippie, banyak rambut, sedikit tata krama. Jadi, kalau betul telah menculik anak Marlon Brando mereka pasti mencari tempat persembunyian di tempat yang sulit dan bukan di hotel atau motel. Baja California mempunyai banyak daerah perkemahan dan lapangan lain sejenis.

Di Mexicalli saya bertemu dengan agen saya, James Carroll. Ia telah menghubungi polisi federal Meksiko seperti yang saya perintahkan. Lima polisi sudah siap menunggu saya. Mereka bersedia untuk membantu setelah diberi imbalan untuk bantuan mereka. Semua desa di pantai akan disisiri. Sementara sampai Laguna Chapala.

Saya menyarankan untuk segera mulai dan mengajak mereka naik ke pesawat. Namun segera mereka semua mempunyai alasan macam-macam untuk tidak ikut. Yang satu katanya sering mabuk udara, yang lain mempunyai sembilan anak dan tidak mau mereka menjadi yatim, dsb. Akhirnya, kami sampai pada kompromi. Saya akan naik helikopter sendiri dan mereka akan mengikuti dari bawah. Kalau melihat sesuatu, saya akan memberi isyarat dan mereka akan segera menyusul.

Saya harus betul-betul jeli. Soalnya, saya harus memperhitungkan kemungkinan bahwa mereka sudah lebih banyak masuk ke pedalaman. Mereka mempunyai banyak kemungkinan, sedangkan apa yang bisa saya lakukan hanya mencari.

Saya hanya turun di desa nelayan kalau perlu bahan bakar. Mereka rupanya sangat ketakutan melihat burung raksasa tiba-tiba hinggap di depan mereka. Sejak mulai terbang saya sudah mengambil keputusan untuk tidak makan sesuatu di bawah, karena takut akan jatuh sakit. Soalnya, orang Meksiko mungkin sudah kebal terhadap segala macam kuman, tetapi orang Amerika tidak. Karena itu saya hanya makan bawaan saya yang sebagian besar terdiri atas permen karet dan air suling. Saya juga hampir tidak tidur.

Dengan cara nonstop saya mencari selama tiga hari. Pada hari ketiga rasanya saya sudah mengalami halusinasi. Saya seperti melihat bus merah di mana-mana. Baju dan celana saya sudah kotor dan janggut saya seperti sawah yang baru ditanami. Mata saya terasa berat.

Ada yang bugil

Saya hampir sampai pada batas untuk menentukan apakah akan meneruskan pencarian atau tidak, ketika tiba-tiba melihat tenda-tenda di sebuah teluk kecil. Ada yang merah, ada yang jingga. Ternyata kombi merah itu juga sedang diparkir di bawah pohon. Sekali lagi saya mengelilingi teluk itu. Helikopter saya parkir 1 km dari tempat itu, lalu saya berjalan kaki kembali untuk menyelidiki kegiatan di kemah dari sebuah bukit. Saya meneropong nomor mobil kombi itu. Memang cocok. Sekarang tinggal menunggu kedatangan kelima polisi itu. Mereka baru datang empat jam kemudian.

Saya menerangkan kepala polisi bahwa orang-orang itulah yang dicari dan bahwa saya tidak tahu bagaimana reaksi mereka kalau ditangkap. Percuma untuk mengepung mereka sampai kelaparan, karena mereka mempunyai cukup persediaan. Salah-salah kita yang kelaparan. Karena itu lebih baik kalau kita mencari tahu apakah anak itu benar ada di situ.

Mereka agak enggan. Katanya, pekerjaan saya untuk menangkap mereka Tetapi saya tidak mempunyai yurisdiksi di negara asing. Akhirnya, mereka setuju asal saya yang memimpin. Itu berarti bahwa saya harus di depan dan mereka akan menyusul.

Karena itu saya meluncur dari batu karang, pistol .38 saya siap tembak. Tidak ada orang yang kelihatan. Saya membuka tenda pertama. Di situ ditemukan seorang pria dan seorang wanita. Mereka hanya mengenakan pakaian dalam minim. "Keluar!" teriak saya. Mereka keluar dengan tertatih-tatih. Jelas mereka sedang fly. Mata mereka pejamkan ketika bertemu dengan sinar matahari. Saya perintahkan mereka untuk menungging, untuk diperiksa badannya. Saya tidak menemukan senjata apa-apa.

Itu juga terjadi pada tenda kedua dan ketiga. Saya memerintahkan mereka untuk tetap tenang, kalau tidak tahu sendiri akibatnya. Tenda keempat rupanya tenda untuk satu orang. Mula-mula saya kira seorang pria, tetapi kemudian ternyata wanita bugil.

"Keluar!" teriak saya lagi.

"Begini? Tanpa busana?" la memprotes. Dia saya jajarkan di sebelah yang lain. la menggigil, entah itu karena takut atau karena kedinginan.

Dalam tenda berikutnya saya tak menemukan pria bugil, tetapi pria dengan harpun. "Jatuhkan barang itu, kalau tidak saya tembak!" Ia menurut. Saya sekarang mempunyai lima pria dan dua wanita. Mereka kelihatannya jinak, tetapi saya tidak berani mengambil risiko. Saya menengok ke belakang, ke polisi Meksiko. Ternyata mereka tidak ada. Bahkan mereka masih di atas bukit. "Turun!" teriak saya sebagai komandan.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi andaikata tawanan saya tahu bahwa saya sendirian. Dari jarak itu mereka tidak bisa menembak tanpa risiko menembak saya. Saya yakin bahwa Christian Brando juga harus di situ. Masih ada satu tenda dekat air, yang belum saya periksa. Saya membuka tenda itu dan menemukan anak berusia 14 tahun, dalam pakaian koyak. la berusaha untuk menyembunyikan diri dalam selimut ranjang lipatnya. Takutnya bukan main melihat saya. Baru kemudian saya bisa membayangkan perasaannya. Bayangkan, dalam keadaan itu tiba-tiba melihat pria brewok masuk dengan pistol teracung.

Namun dia benar Christian Brando, yang jelas perlu dirawat. Ia demam dan batuk. Rupanya ia sudah beberapa kali batuk darah. Mukanya pucat. Pasti ia menderita radang paru-paru.

Saya minta kepada para polisi untuk menggiring orang-orang ini ke perbatasan. "Tidak mungkin," kata polisi, karena mereka tidak berbuat salah terhadap pemerintah Meksiko. Kalau mereka bersalah polisi bisa mengantarkan mereka ke perbatasan dan mengusir mereka sebagai orang tidak dikehendaki di Meksiko. Pokoknya, bagi saya yang penting ialah membawa anak itu ke dokter.

Saya menggendong anak itu ke helikopter dan langsung terbang ke San Diego, tempat ia dirawat oleh dokter. Setelah itu saya menelepon pengacara Brando, Allen Susman dan Norman Garey. Mereka mengatakan bahwa Brando kebetulan sedang di kantornya dan saya bisa bicara sendiri.

"Jay," katanya dengan gugup. "Saya menunggumu. Kapan kita bisa bertemu? Saya mempunyai informasi baru."

"Jangan tergesa-gesa," jawab saya dengan tersenyum. "Saya akan ke Los Angeles. Saya akan membawa Christian." Ia kaget. Ia baru percaya setelah Christian sendiri yang berbicara dengan ayahnya lewat telepon.

Setelah diadakan proses pengadilan yang bertele-tele, akhirnya Christian ditunjuk berada di bawah pengawasan ayahnya dan Jay Armes langsung menjadi tenar, karena tentu pers dan televisi tidak mau ketinggalan kalau Marlon Brando tampil di depan pengadilan.

Namun tentu tidak setiap kasus bisa saya ceritakan gamblang seperti kasus penculikan anak Brando. Saya pernah mendapat tugas dari Raja Feisal, keluarga Burton, Richard Widmark (pemain film kawakan juga) dan Howard Hughes. Itu soal lain yang tidak bisa dibeberkan begitu saja.

Keberhasilan menangkap penculik anak Marlon Brando membuat reputasi Armes terangkat. Namun, biarpun Jay orang yang terus terang, tentu ia tidak bisa membeberkan begitu saja rahasia orang lain atau pengalamannya sendiri. Kalau ia tutup mulut itu tentu ada maksudnya.

Ia misalnya tidak akan menceritakan panjang-lebar tentang pengalamannya ketika ia ditembak di depan rumahnya pada saat sedang mengantarkan tamu ke luar. Soalnya, ia tidak mau melibatkan tamu yang diantarkan. Demikian juga ia tidak mau berbicara mengenai tembakan di kantor. Soalnya, si penembak itu orang yang kurang waras, sehingga bisa menjatuhkan namanya. Putrinya, Tracy, juga pernah hampir diculik. Saat buku itu diterbitkan tahun 1976 ia mempunyai 2.642 agen pribadi dan kantor di sebelas kota besar di AS.

Para langganannya umumnya disebut dengan nama samaran rekaan sendiri. Ia hanya ingin menceritakan bahwa ia pernah bekerja untuk Elvis Presley, Elizabeth Taylor, Frank Sinatra, dan presiden sebuah republik Amerika Selatan, seorang bankir terkenal, politikus top, presiden dari sebuah perusahaan multinasional, tapi ia tidak mau mengatakan untuk apa. Mereka berhak atas privasi masing-masing.

"Lagi pula siapa yang akan mempercayai saya, kalau apa yang dipercayakan kepada saya, saya beberkan di program TV, wawancara, atau dalam buku ini? Bagi saya yang paling penting ialah langganan saya," katanya

Kita hanya tahu bahwa istana Raja Faisal pengamanannya luar biasa.

Semua pengalamannya telah dicatat. Arsipnya cukup untuk menulis enam buku seperti ini. Pokoknya, anak dari El Paso itu telah menjadi detektif terkenal, sehingga ia sering disapa kalau sedang jalan-jalan.

Ia bukan hanya terkenal, tetapi sering diminta untuk meresmikan pembukaan toko, memperkenalkan produk baru, menulis di koran, muncul dalam show TV, diajak berfoto bersama, ada yang minta bantuan uang untuk macam-macam tujuan atau diminta untuk berceramah. Mereka semua diterima dengan ramah dan diajak melihat-lihat rumahnya. Jay. J. Armes orang kaya, terkenal, tetapi ia juga tidak perlu terus melakukan hal itu. Orangnya serius, hati-hati, tetapi sekaligus juga penuh ide, rencana dan ambisi. Hari ini dinikmati, tetapi hari esok lebih cerah, katanya.

Intisari-Online.com
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Total Tayangan Laman

Arsip Blog

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Rewin Template | Download Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2050. Indonesia get power - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Rewinsatria